naska drama muliyadi
Minggu, 26 Februari 2017
Pos muliyadi
Senin, 20 Februari 2017
Sang putri
Sang putri
Narator:
Dikisahkan pada zaman dahulu kala di pangi-pangi terdapat sebuah kerjaan yang bernama kerjaan pangilawa yang di pimpin oleh raja yang arif dan bijaksana yaitu prabu muliyadi dan ratu rahwama rakyat hidup tenang ,makmur,tentram,damai dan sejahtera. Namun sayangnya, prabu muliyadi dan ratu rahwama belum di karuniai seorang anak. Sehingga ini menjadi kegelisahan sang prabu muliyadi dan ratu rahmawa.
Ratu rahmawa:
(sedang murung dan menangis)
Prabu muliyadi:
Sudahlah dinda. Jangan murung dan menangis terus. Kalau dinda bersedih terus seperti ini, kanda jadi ikut bersedih.
Ratu rahmawa:
Gimana dinda gak bersedih kanda, sudah bertahun-tahun kita berumah tangga tapi belum di karuniai seorang anak.
Penasehat:
Baginda, supaya ratu rahmawa tidak bersedih terus bagaimana kalau mengangkat seorang anak saja baginda. Barang kali bisah mengurangi kesedihan ratu.
Ratu rahmawa:
Tidak! Aku tidak mau punya anak angkat!
Prabu muliyadi:
Sudahlah dinda jangan menangis terus. Kanda akan berusaha lagi. Kanda akan pergi kehutan untuk bertapa agar kita cepat dikaruniai seorang anak.
Ratu rahwama:
Baiklah kalau begitu.jika memang kanda harus pergi kehutan untuk bertapa,baiklah kanda. Dinda turut berdoa.hati-hati kanda.
Narator:
Pergilah prabu pergi kehutan untuk bertapa. Di hutan, sang prabu terus menerus berdoa agar di karuniai anak.
Berpa bulan kemudian, keinginan mereka terkabul. Ratu rahwama pun mulai hamil. Seluruh rakyat senang sekali.mereka membanjiri istanah dengan hadiah.
Sembilan bulan kemudian, ratu rahwama melahirkan seorang putri.
Ratu rahwama:
(menggendong seorang anak)
Prabu muliyadi:
Putri kita cantik ya,dinda. Dan kelihatannya sangat lucu.
Ratu rahwama:
Iya kanda. Kita harus bersyukur akhirnya kita di karuniai seorang anak.
Prabu Muliyadi:
Iya dinda. Putri kita ini juga manis dan sangat menggemaskan! Oleh karna itu, bagaimana kalau kita beri nama Gilang Rukmini? Gimana dinda setuju tidak?
Ratu rahwama:
Dinda setuju, setuju sama kanda.
Narator:
Sesaat ratu dengan raja berbahagia, datanglah penasehat kerajaan.
Penasehat: .
Ampun baginda. Ini dari rakyat, mengirimkan beraneka hadiah untuk putri baginda. Mereka turut bersuka cita dan mengucapkan selamat atas kelahiran putri baginda.
Prabu muliyadi:
Terima kasih, paman
Narator:
Tak hanya keluarga istana yang berbahagia,rakyat turut berbahagia mendengar kabar tersebut.
Sayangnya, gilang rukmini tidak diasuh secara baik oleh prabu muliyadi dan ratu rahwama. Gilang pun tumbuh menjadi gadis yang manja dengan sifat-sifat yang kurang baik. Dan tidak segan berkata kasar untuk mendapatkan yang ia inginkannya. Walaupun begitu, baik prabu muliyadi, ratu rahwama, dan rakyat sangat mencintainya.
Hari berlalu, putri pun tumbuh menjadi gadis remaja tercantik di seluruh negeri. Dalam beberapa hari, putri akan berusia 17 tahun. Maka para penduduk di pangi-pangi itu pergi ke istanah. Mereka membawa aneka hadia yang indah. Prabu mengumpulkan hadiah-hadiah yang sangat banyak itu, lalu menyimpan dalam ruangan istanah. Sewaktu-waktu, ia bisa menggunakannya untuk kepentingan rakyat.
Prabu hanya mengambil sedikit emas dan permata. Ia membawannya ke ahli perhiasan.
Prabu muliyadi:
Pak, tolong buat kan kalung yang sangat indah untuk putriku.
Narator:
Ahli perhiasan itu lalu bekerja sepenuh hati. Ia ingin menciptakan kalung yang paling indah di dunia. Karena ia sangat menyayangi putri raja.
Hari ulang tahun pun tiba. Penduduk pangi-pangi berkumpul di alun-alun istanah. Ketika prabu datang, orang menyambutnya dengan gembira. Sambutan hangat semakin terdengar, ketika putri yang cantik jelita muncul di hadapan semua orang. Semua orang mengagumi kecantikannya.
Rakyat-rakyat-
(teriak dan bertepuk tangan)
Horeee!! Horeee!! Horeee!! Raja dan ratu telah datang!
Rakyat 1
Wah cantik sekali ya, putri prabu muliyadi.
Rakyat 2
Iya. aku jadi iri melihatnya.
Narator:
Prabu lalu bangikit dari bangkunya. Kalung yang indah suda di pegangnya. Kemudian....
Prabu muliyadi:
Putriku tercinta gilang rukmini, hari ini hari ulang tahunmu. Kalung ini adalah pemberian dari seluruh rakyat pangi-pangi. Mereka sangat mencintaimu. Mereka mempersembahkan hadiah ini, karena mereka gembira melihatmu tumbuh jadi dewasa. Pakailah kalung ini, nak.
Narator:
Putri menerima kalung itu dan. Lalu ia melihat kalung itu sekilas. Kemudia.....
Gilang rukmini:
Aaahh!! Kalung apa ini?! Kalung ini jelek! Aku tak mau memakainya! (kalung di lempar)
Rakyat:
Haaahhh??? Kalung indah permata itu di lempar begitu saja oleh sang putri. Sungguh ku tak menyangka putri bagindah berbuat seperti itu.
Narator:
Kalung yang indah pun rusak. Emas dan permatannya tersebar di lantai. Seluruh rakyat yang hadir terkejut. Tak seorang pun bicara. Suasana hening. Tibah-tiba ratu rahwama menangis melihat prilaku putrinya. Rakyat pun mengikuti menangis melihat ratu rahwama menangis. Akhirnya, semua pun meneteskan air mata, sehingga istana basah oleh air mata mereka.
Ratu rahwama:
(menangis)
Narator:
Tiba-tiba muncul mata air dari halaman istana. Airnya keluar sangat deras yang makin lama makin banyak.
Rakyat 1
Haaaahh?? Ada air! Air! Air!
Rakyat 2
Haaahh?? Tiba-tiba air ini membentuk kolam kecil!
Rakyat 3
Bukan! Ini banjir! Banjir! Banjiir! Banjiiir! Banjir!
Narator:
Setelah kejadian tersebut, rakyat berteriak teriak kebingungan, panik, ketakutan dan...........tiba-tiba istana pun di penuhi air bagai danau. Lalu danau itu makin besar dan menenggelamkan istana. Kemudian....... terciptalah sebuah danau yang sangat indah.
Nama danau kini di kenal orang sebagai danau batu lase warna airnya berwarna warni, warna itu berasal dari bayangan hutan, tanaman, bunga-bunga, dan langit di sekitar danau. Namun, orang mengatakan, warna-warna itu berasal dari kalung sang putri gilang rukmini yang tersebar di dasar danau